Di depan kelas 10 B - Smadapare.
Setelah hujan bertemu dengan bumi, yang derainya adalah kerinduan tanah akan basah. Kini, hatiku yang sejak beberapa saat lalu terasa kemarau, panas, mendamba hadirnya embun kesejukan yang jika ia rela membasahinya, itu sudah cukup.
Apa yang sedang aku lakukan? Entah. Yang jelas itu semua merupakan perwakilan dari seluruh penghuni rumah jiwa. Aku dan aku dalam rinai senja yang mulai temaram oleh kelam matahari yang tenggelam.
Hampir tiap kusebut namamu ratusan kali, kuharap dengannya dipantaskan ini menjadi cinta. Hingga disuatu entah, saat terdengar namamu di telinga ini, namamu itu lebih mampu menjadi obat pemusnah seluruh resah.
Kamis, November 19, 2009
Senin, November 16, 2009
15/112009
Aku terdiam tak sadar ketika memandang wajah itu. Wajah yang sepertinya mulai hari ini, esok dan seterusnya akan menjadi penghuni rumah jiwa. Dia anak baru yang ingin belajar menjadi seorang pengkaji alam. Sejak saat itu jangankan menatap mata, wajah dan sosoknya. Bertemu saja aku sangat gemetaran, kenapa aku ini? Tidak tahu. Sakitkah? Mungkin. Yang jelas sejak hari itu, di setiap apapun yang kupandang dia selalu datang. Wajahnya seperti tirai tipis yang selalu nampak pada apapun yang kulihat. Dan ketika kutahu namanya, aku heran sepertinya namanya seperti obat anti depresan yang memberi ketengangan. Oh.. Eki kamu kenapa? Entah.
Sepulang camp, aku ngobrol hangat dengan lek sur. Tiba-tiba terdengar suara hapeku berbunyi singkat, pertanda ada sms yang masuk. Kubaca, eh ternyata ada sms dari orang yang aku bahas diatas.Isi smsnya, ia menanyakan apa aku mengetahui binder warna kuning yang tadi tergeletak di camp. Belum lagi aku menjawabnya, grogi sudah akut menyerangku. Namun, kumampu-mampukan untuk menjawab sms darinya, bahwa tadi sepertinya masih tergeletak di camp.
Entah kenapa ketika itu tanganku sedang jahil (Jawa:cluthak) sehingga aku buka lembar demi lembar binder itu, helai demi helai dan kebanyakan isi dari buku itu adalah kord dari guitar. Ternyata benar dugaanku bahwa dia (gadis itu) lumayan bisa memainkan alat musik itu. Dan di akhir-akhir lembar dari binder kuning itu, di sampul dalam terselip sebuah kertas bukti pembayaran iuran bulanan sekolah (SPP). Sejenak kurelakan mataku mengamati bentuk kertas yang mulai tak berbentuk tersebut, lalu tiba-tiba hatiku merasa tidak tega berbaur kasihan pada kertas tersebut. Kupegang perlahan, lalu aku paham mengapa selembar kertas itu bisa menjadi lusuh dan hampir sobek-sobek. Yang jika itu orang, maka dia sedang mengalami luka-luka pada sekujur tubuhnya. Lalu sebisanya aku perbaiki dengan alat seadanya, tak butuh waktu lama dan hasilnya cukup memuaskan. Berulangkali ku pandangi, tak jenuh-jenuh. Sepertinya selembar kertas kini sedang tersenyum manis kepadaku. Sama, ketika pemiliknya tersenyum akupun tak jenuh walau selama apa aku memandanginya.
bersambung, karena kopiku sudah habis... :)
Sepulang camp, aku ngobrol hangat dengan lek sur. Tiba-tiba terdengar suara hapeku berbunyi singkat, pertanda ada sms yang masuk. Kubaca, eh ternyata ada sms dari orang yang aku bahas diatas.Isi smsnya, ia menanyakan apa aku mengetahui binder warna kuning yang tadi tergeletak di camp. Belum lagi aku menjawabnya, grogi sudah akut menyerangku. Namun, kumampu-mampukan untuk menjawab sms darinya, bahwa tadi sepertinya masih tergeletak di camp.
Entah kenapa ketika itu tanganku sedang jahil (Jawa:cluthak) sehingga aku buka lembar demi lembar binder itu, helai demi helai dan kebanyakan isi dari buku itu adalah kord dari guitar. Ternyata benar dugaanku bahwa dia (gadis itu) lumayan bisa memainkan alat musik itu. Dan di akhir-akhir lembar dari binder kuning itu, di sampul dalam terselip sebuah kertas bukti pembayaran iuran bulanan sekolah (SPP). Sejenak kurelakan mataku mengamati bentuk kertas yang mulai tak berbentuk tersebut, lalu tiba-tiba hatiku merasa tidak tega berbaur kasihan pada kertas tersebut. Kupegang perlahan, lalu aku paham mengapa selembar kertas itu bisa menjadi lusuh dan hampir sobek-sobek. Yang jika itu orang, maka dia sedang mengalami luka-luka pada sekujur tubuhnya. Lalu sebisanya aku perbaiki dengan alat seadanya, tak butuh waktu lama dan hasilnya cukup memuaskan. Berulangkali ku pandangi, tak jenuh-jenuh. Sepertinya selembar kertas kini sedang tersenyum manis kepadaku. Sama, ketika pemiliknya tersenyum akupun tak jenuh walau selama apa aku memandanginya.
bersambung, karena kopiku sudah habis... :)
Minggu, November 15, 2009
Senin, November 09, 2009
Lilin Kepada Api
Rasa malam yg sunyi
Juga sepi. Manis dihati
Namun, apa jadinya itu
Saat terasa didlm belantara
Tak memperdayakan lilin
Lilin kecil yg ingin bermakna
Walau kecil, iapun ingin
Hanya ingin bersinar
Menyalakan api.
Tapi banyak angin liar
Terus berhembus tk henti
Iapun terus mnunggu, dan terus. Angin mereda,
Ia tau, akan api
Membuat bermakna
Atau malah hanya tak berdaya
Lilin hanya ingin meminta agar api menyala di tubuhnya, hanya itu, dan lilin selalu menjaga
Ketika api telah menyala di tubuhnya,
ia suka, rela, cinta,
Dan teramat sangat sekali pada api walau tak abadi
Meski hancur, lebur
Hilang bentuk, remuk
Itulah makna
Juga sepi. Manis dihati
Namun, apa jadinya itu
Saat terasa didlm belantara
Tak memperdayakan lilin
Lilin kecil yg ingin bermakna
Walau kecil, iapun ingin
Hanya ingin bersinar
Menyalakan api.
Tapi banyak angin liar
Terus berhembus tk henti
Iapun terus mnunggu, dan terus. Angin mereda,
Ia tau, akan api
Membuat bermakna
Atau malah hanya tak berdaya
Lilin hanya ingin meminta agar api menyala di tubuhnya, hanya itu, dan lilin selalu menjaga
Ketika api telah menyala di tubuhnya,
ia suka, rela, cinta,
Dan teramat sangat sekali pada api walau tak abadi
Meski hancur, lebur
Hilang bentuk, remuk
Itulah makna
Langganan:
Komentar (Atom)
