Minggu, Desember 22, 2013

Hari Ibu


Pagi, aku bersama kopi manis 
buatan nenek. Sedang langit Sumengko
entah kenapa, seolah tak ikut gembira
merayakannya. Padahal ini hari Ibu

Apa karena tiada lagi lilin menyala
kue-kue, bunga-bunga, balon-balon
terompet, tepuk tangan dan nyanyian.
Tak ada ucapan selamat!

Ataukah teringat alangkah nelangsa
nasib Ibunya, Ibu Pertiwi, Ibu Bumi
memandangi mereka gemar adu mulut
bahkan saling sikut demi isi perut


Alangkah sayang, alangkah malang
Betapa nestapa dia!

Kemarin sore, sebelum kucium
punggung tanganmu, pipi kiri juga kanan
kulihat langit cerah yang bening
dalam matamu. O, cantik sekali. Cantik!

Apa kabar Ibu?
semoga Engkau bahagia
dan senantiasa damai sentosa
Amin


Nganjuk, 2013

Minggu, Desember 15, 2013

Ulang Tahun

Pagi yang mendung, seperti ikut tertunduk. Sedih. 
Mendengar kabar tentang umurku
telah hilang setahun
Seolah ikut mengembarakan doa 
Kepadaku

Pada selembar kertas putih
telah merebah sekumpulan cinta
kuamati, aku kenal hurufhuruf ini
titik, garis, kata jadi kalimat
ada kebahagian disitu
mengalir dari hulu nurani, ruhani
jantung lalu dilarung darah
melewati loronglorong melalui
jemari, bergetar di ujung pena
biru:

"Selamat ulang tahun mas. Semoga panjang umur & banyak rejeki. Dari Ayah, Ibu, Lona..."


Dua puluh dua tahun lalu
aku berdiam dalam goa sunyimu, Ibu.
Setelah lama menunggu, di jiwamu, Ayah.
dan selama itu, tak jarang
aku hanya mengundang;

Halilintar yang menyambar-nyambar jantung jadi bergetar. Mengguncang rumah jiwa!
Gempa

Gumpalan mendung hitam
yang meloloskan diri, dari mata kalian.
Jadi hujan deras!
Banjir

Wahai Kau yang menimangku
Wahai Kau yang dadanya sesak olehku
Wahai kau yang mengasih-sayangi sepanjang jalan
Di malam hening tanganmu tengadah
sedang air dimatamu tertumpah

Duh, sungguh segenap seluruh ini
Maaf, ampun, ridhoilah aku.
Darah-dagingmu
...



2013

Selasa, November 05, 2013

Kaukah itu

Selamat pagi, malam
matahari terbit dalam dada
menerangi langit kelam
ruang renung rumah, wangi mimpi

Kaukah itu, serupa malam
yang mengasah asih asuh
luka lelaku rindu
...

Kaukah itu, saat rindu menjadi wirid
atau cinta menjelma warid
alangkah empedu, malam uluk salam
tanpa kau
: Kopi



1 Muharam 1435. Gurah yang resah.

Jumat, Oktober 18, 2013

Menyelamlah

:Bagas, Sa'dul


Pagi, matahari terbit melangit
menyinari gubuk tua yang damai
Namun lunglai. Sedang kau di pantai
O, kenapa hanya di tepian main air
atau membangun serupa istana pasir
aduhai, lepas sepatumu
dan pakaian putih abu-abu
menceburlah menyelam
jangan kalut, jangan takut!
di kedalaman samudra
di antara ikan, karang dan kerang
kau akan menemu
mutiara-mutiara kebijakan
 



Kediri, 18 Oktober 2013.

Rabu, Oktober 02, 2013

lekaslah sembuh, Gus




Aku ingat, saat itu hari raya, dalam keadaan sakit kau paksakan diri menemui dan menjamu kami, meski dengan berpegangan tembok untuk menuju ruang tamu. Kau pakai kaos barcelona, klub kesukaanmu dan sarung hijau. Dalam sebegitu keadaanmu, wajahmu masih senantiasa cerah, senyuman manis cair mengalir. Dan sesekali tawamu terdengar. Indah!
Kemarin, betapa aku terperanjat ketika mengetahui kabarmu yang sudah lebih kurang enam bulan sakit, dan mendadak malam itu di opname, di Purwoasri. Aduh Gusti! Sedih sekali rasanya. Kumenuju ruanganmu, begitu kulihat, kau tersenyum manis. Manis sekali. Sambil berkata, 'eh, mas bandeng...' kulihat tanganmu gemetaran, langsung kuraih, kujabat tanganmu. Kau tahu, tubuhku yang kurus kering ini, bahkan hingga kau kalahkan. Kau makin kurus. Wajahmu putih pucat. Memandangimu, di mataku ini mendadak menggeliat air yang cukup hangat. Dadaku sesak. Suasana menjadi biru, sunyi. Malam berubah kelam. Nelangsa sekali rasanya. Sungguh, kau damai, bahagia menikmati sakit yang bertamu di dirimu. Namun, kami tak sedamai kau. Maka, segeralah sembuh, Gus.
Aku rindu tawamu
Aku rindu candamu
Aku rindu nasehatmu
Aku rindu senandungmu
Aku rindu ngopi denganmu
Aku rindu melek'an denganmu
Aku rindu bakarbakar denganmu
Aku rindu....
Semoga lekas sembuh, Gus

Kamis, Agustus 22, 2013

Pagi ini


Di gubuk bambu ini
sinar matahari terlalu
bocah. Untuk menjamah
rumahrumah jiwa
yang gelap sunyi senyap

setelah berjuang menghalau galau 
ditikam dingin, didekap embun
saling melempar tatap
sesekali senyum tergelincir disekitar
wajah kusut yang belum dijamah air
Seusai mentari menari diselasela
gubuk bambu, maka perlahan
hangat mulai menggeliat

Kamis, Juli 18, 2013

lalang semak

lalang semak

konon, di ujung semak

ada lalang melambai
dibelai angin
anggun
santun
tulus mengalun

konon, di ujung semak
ada lalang gontai
ditikam badai
hampir terhempas!


Pare, 18 juli 2013

Selasa, Juni 04, 2013

Semalam, di Gubuk Barokah

Siang itu, aku tengah pulas dalam tidur. Entah mengapa, mataku ini terasa berat. Padahal, semenjak pagi aku tidur, lalu agak siang aku bangun. Niatnya sudah saya cukupkan tidurku hari itu. Tapi, mataku ini tak setuju begitu saja dengan keputusanku. Di hampir tengah siang hari, mataku ini kembali terasa berat, yah akhirnya terpaksa kupilih melanjutkan mengarungi alam mimpi, bersama selimut bergarisgaris. Ditengah tidurku, pukul 13:30:02 sebuah handphone Nokia di sudut kamar, yang sebelumnya tenang tibatiba bergetar lalu singkat berbunyi. Oh, ada ada pesan masuk rupanya. Kuraih hp tersebut, kuamati ternyata pesan dari Kakang Gus Ali, Blawe. "Engko jam 8 bengi, repot gak kik? Tanya Beliau. "Insha allah mboten repot mas....," Jawabku. Lalu, cukup lama tak ada balasan. Hingga ada pesan masuk lagi, kubaca "Engko nek gak repot, pean reneo, nginep nang Gubuk. Cangkingne duit 350rb nggone mas Riki." Balas Beliau, mengajak menginap di PGB, Blereng. Sambil ngalap berkah, menghirup udara kedamaian yang berkesiuran di PGB, juga untuk memuaskan suatu kerinduan.

Selasa, Mei 28, 2013

Simbahku, Siti Juwariyah


Bagaimana kami simpuh

Pada pendar malam yang hampir jumpa fajar
ada suatu sunyi melangitkan puja-puji
di tepi surau sederhana nan damai
Aku didekap hangat oleh angin dingin
tertunduk lugu mengeja aksara makna
meresapi getar yang merambat getir
melalui bait-bait menuju samudra rindu
Kudengar suara Engkau batuk-batuk
yang sanggup membuat mata mereka
redup memerah, membendung air hangat
yang di kedua pipi gemar menggeliat

Senin, Mei 20, 2013

Duduk simpuh

Oleh; Gus Ali Musthofa, Blawe


Duduk simpuh di depan sang Abah
mendengar untaian kalimat fatwa
Memandang wajah mulia yang penuh tawa
dengan sebatang rokok di sela jari agungnya
Kucuran perhatian suci kuterima dengan bangga
Melenyapkan kekecewaan yang menyayat jiwa
Kalimat syukur kumandang lantang dalam dada 
karena sebutir debu hina
beliau ijinkan melekat, di pojok sarung mulia



Kediri, 24 April 2013

Rabu, Mei 15, 2013

Guratan Bambu

Di selasela bambu gubuk derita
gurat-guratnya tersirat cerita

Sejak kali pertama aku-kau jadi kita
lalu lebur di alam sebagai pecinta

Bila hangat enggan menggeliat
atau kala putus semangat, maka mari lihat:

Air musti lembut mengalir
bila beku, demi apa tak ikut cair?

Rabu, Mei 01, 2013

Biar

Biar!
Biar saja, lidah yang pahit ini,
makin getir.
Jangan kau gentar!

Biar!
Biar saja, rambut yang kusut ini,

makin kasau.
Jangan kau kalut!

Rabu, April 24, 2013

Senja di Kotamu


Hari itu masih terik, meski matahari sudah agak tergelincir. Teriknya cukup sanggup membuat kulit dialiri peluh. Aku sempat duduk di serambi masjid. Di masjid, aku melaksanakan tugas dari Tuhan. Ya, sholat dhuhur. Lalu, di hampir menuju salam, tibatiba terdengar suatu isyarat dari handphone terbaring di sampingku bergetar lalu berdering. Menandakan ada panggilan. Tak kuhiraukan, hingga berkalikali berbunyi. Sebab, aku masih ingin mengisahkan perjalananku padaNya, melalui baitbait cinta. Seusainya, aku langkahkan kaki kembali ke beranda ruang komputer itu. Untuk melihat mereka yang sedang latihan. Kuberjalan di lorong menuju beranda ke ruang itu. Di beranda ruang itu, sekilas kupandangi, ada dua sosok perempuan. Keduanya berkerudung. Satu dari mereka sangat aktif, periang dan mudah akrab. Satu lainnya, pasif, murah senyum dan pendiam.

Sabtu, April 20, 2013

Angon awak'e dewe-dewe



Angon awak'e dewe-dewe


Gusti Allah ora sare. Ayo apik. Ora usah neko-neko, ayo ngapik'i awak'e dewe-dewe, tumindak kang becik ing samubarang gawe, samubarang wayah lan panggonan. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. 

Gus, semoga lekas sembuh





Gus,
semoga lekas sembuh.
Lalu kita, duduk
berbincang, sambil ngopi. 

Seperti di warung,
saat hujan-hujan itu.
Saat rinai
kian tak berjarak.
Disitu, rindu kami

kian marak, Gus.

Gus,
jangan kau kambuh.



alfaatihah..



Rabu, April 17, 2013

Lagi

Lagi

Lagi, hari ini jangan kau cemberut
walau usiamu susut, kian surut.
Selangkah menuju perut,
dimana tak seorangpun sudi ikut.

Lagi, hari ini jangan kau sedih,
walau hati merintih, pedih.
Usah kau jadi ringkih,

tebarlah kasih, hingga kau berbalut selimut putih.

Lagi, hari ini jangan kau resah,
jiwa keruh penuh buncah.
usah kedua indah bola matamu itu memerah,
sebab tak kuasa, menahan air hampir tumpah.

Cintai semua jiwa, hingga
kau pulang ke sana,
kau beristirahat dengan tenang,
kau bersemayam dalam rindu dan kenang.

Selamat,
semoga selamat.


Nganjuk, April 2013



Untukmu;
Gus Azziz Efendi dan Wahyu Arum yang pada April ini berulang tahun. Kulo mboten saget maringi noponopo. Namung ucapan niku. Puisi-puisian nginggil niku, mugimugi saget nyemangati njenengan.
Selamat milad Mas, Rum, semoga bahagia damai sentosa sejahtera. Amiin.

Bos Roni

Seingatku, aku punya seorang teman di daerah Keringan, Nganjuk. Kupanggilnya dengan nama bos Roni. Dia beberapa tahun lebih tua dariku. Tinggi, tak terlalu kurus, kulitnya sawo matang ala Indonesia. Sama, dia juga gemar ngopi. Bahkan mungkin lebih akut dia. Motornya Supra sangat jelek, hampir copot semua sayapnya. Namun dia sangat menyayanginya, mungkin ada kisah dibaliknya. Hampir tiap kukesana, jarang kutemu dirumahnya. Kalau demikian, biasanya dia di warung, dan memang benar. Kadang di warung dekat rumahnya, kadang depan SMPN 4 Nganjuk, kadang dekat perempatan utara SMP. Malam itu, di rumahnya kami sedang berbicara tentang hape. Membahas hapeku, nokia yang penuh balutan plastik bening (Jawa:solasi), karena wujudnya sudah agak acak-acakan, namun tetap kupakai karena ada suatu kisah ikut tertumpah padanya. Dia berkisah jaman dia belajar di Nglawak, Kertosono.

Minggu, April 14, 2013

Sore itu

Sore itu, langit Sumengko menangis cukup lama. Sesekali disertai Gelegar halilintar yang cukup cetar membuat jantung menuju debar. Aku sms dia, namun cukup lama tidak ada jawaban. Dalam rangka menunggu itu, aku diganggu rasa bersalah. Aduh, bagaimana ini? Entah. Aku jadi bingung sendiri.

Minggu, Maret 31, 2013

Sisa Kopi itu


Suatu pagi, ngopi di Smadapala Pare Campground. Kopinya sudah dingin, dan hampir menuju ampas (Baca;cekakik). Indah tak harus mewah. :)


Photographer: Pradhika Agita (NR: Camp Red '08)
 




Jumat, Maret 22, 2013

Kemana


Kemana


Kaki melangkah seolah ke depan
mata menatap seolah melihat tujuan
tekad kuat seolah menembus awan
Padahal, hanya seorang musafir yang tersesat di jalan.

Ingin kembali, tapi tak tahu jalan pulang
Ingin berlari, tapi takut semakin jauh dari tujuan
Ingin berhenti, tapi takut terlindas oleh keinginan
hanya bisa melangkah, sambil berharap pertolongan.

Tak terasa semakin jauh berjalan
usia semakin terkikis pedang zaman
nafas panjang, berharap berkurangnya beban
semoga semua ada makna, bukan perjalanan kesia-siaan.




Kediri, 22 Maret 2013
 



Ini merupakan suatu puisi karya Gus Ali Musthofa, Blawe. Suatu bentuk perenungan perjalanan bagi para pejalan. Sudah bagaimana yang telah dilakukan oleh para pejalan, dan bagaimana selanjutnya. :)

Rabu, Maret 06, 2013

Duh, Abah...

Setiap saat, panjenengan senantiasa menumpah ruahkan seluruh perhatian kepada mereka. Doa-doa yang tiada henti-hentinya terangkai. Dalam setiap tangan terangkat, tak lupa nama mereka pula ikut disebut. Keselamatan, kedamaian, ketenangan, kemuliaaan serta kebahagiaan lahir-batin, dunia-akhirat. Wajah panjenengan yang cerah, terang benderang itu adalah kemuliaan yang tak terkira bagi sepasang bola mata yang pernah memandangnya. Tangan panjenengan yang penuh belaian kelemahlembutan itu adalah kemuliaan bagi tangan pernah menjabatnya, terlebih menciuminya. Mereka, saat ini masih mengalami kekeringan berkepanjangan yang teramat sangat, tandus, gersang, kering-kerontang. Meski sedemikian berat beban tanggung jawab, namun tidak pernah tersirat di wajah panjenengan yang indah nan cerah itu resah maupun gelisah. Tingginya derajat dan kemuliaan sama sekali tak panjenengan tampakkan. Bahkan, segala yang sederhanalah yang panjenengan sukai. Di pintu kecil, depan pintu ndalem pun tertulis dengan sedehana, "kesederhanaan nunjang kebahagiyaan."
Aku ingat, saat pertama sowan dulu aku meminta saat meminta ayat baro'ah dulu. Engkau ceritakan bagaimana kedahsyatannya. Ya, itu sangat membuat hatiku kian membara untuk mengembara di perjalanan menujunya, seperti Panjenengan. Saat itu, aku masih sangat bocah, kelas 2 di SMAN 2 Pare. Aku sangat gugup, gemetar, takut pada Panjenengan. Namun, senyum cerah Panjenengan mengalihkan ketakutanku. Senyum yang mengalirkan kasih sayang.

Rabu, Januari 02, 2013