Setiap saat, panjenengan senantiasa menumpah ruahkan seluruh perhatian kepada mereka. Doa-doa yang tiada henti-hentinya terangkai. Dalam setiap tangan terangkat, tak lupa nama mereka pula ikut disebut. Keselamatan, kedamaian, ketenangan, kemuliaaan serta kebahagiaan lahir-batin, dunia-akhirat. Wajah panjenengan yang cerah, terang benderang itu adalah kemuliaan yang tak terkira bagi sepasang bola mata yang pernah memandangnya. Tangan panjenengan yang penuh belaian kelemahlembutan itu adalah kemuliaan bagi tangan pernah menjabatnya, terlebih menciuminya. Mereka, saat ini masih mengalami kekeringan berkepanjangan yang teramat sangat, tandus, gersang, kering-kerontang. Meski sedemikian berat beban tanggung jawab, namun tidak pernah tersirat di wajah panjenengan yang indah nan cerah itu resah maupun gelisah. Tingginya derajat dan kemuliaan sama sekali tak panjenengan tampakkan. Bahkan, segala yang sederhanalah yang panjenengan sukai. Di pintu kecil, depan pintu ndalem pun tertulis dengan sedehana, "kesederhanaan nunjang kebahagiyaan."
Aku ingat, saat pertama sowan dulu aku meminta saat meminta ayat baro'ah dulu. Engkau ceritakan bagaimana kedahsyatannya. Ya, itu sangat membuat hatiku kian membara untuk mengembara di perjalanan menujunya, seperti Panjenengan. Saat itu, aku masih sangat bocah, kelas 2 di SMAN 2 Pare. Aku sangat gugup, gemetar, takut pada Panjenengan. Namun, senyum cerah Panjenengan mengalihkan ketakutanku. Senyum yang mengalirkan kasih sayang.
Aku ingat, saat ada dua orang santri Panjenengan yang datang ke Gubuk, sehabis ikut mendoakan acara di suatu pernikahan karena mengalami banyak gangguan gaib. Mereka diberi oleh keluarga mempelai sedikit jajan. Jajan tersebut dimasukkan ke dalam plastik. Campur aduklah semua makanan itu, hingga tak ada lagi selera untuk memakannya. Mereka tak sudi memakannya. Namun Panjenengan datang dengan wajah penyambutan, lalu Panjenengan meminta sedikit makanan campur aduk di plastik itu untuk dibawa ke ndalem, untuk diberikan kepada ibuk. Dengan Wajah sumringah, tak ada rasa remeh Panjenengan pada makanan yang amat tak menarik itu. Betapa menghargainya Panjenengan terhadap hal-hal kecil seperti itu.
Aku ingat, dulu panjenengan minta foto panjenengan untuk dicetak. Entah, siapa yang sampai hati memberikan foto jadi itu kepada panjenengan tanpa kaca dan bingkai. Sehingga foto panjenengan yang indah itu panjenengan tempel dengan lakban (Jawa:solasi) hitam. Duh, aku ini bagaimana?
Aku juga ingat, ketika panjenengan sedang memperhatikan kami ngopi dan ngobrol di suatu malam. Sambil sesekali ikut tertawa pertanda ada yang menggelikan dalam perbincangan kami. Tawa yang terlampau menyejukkan hati. Terkadang, dalam hangatnya perbincangan kamipun pernah mendengar panjenengan mendengkur, pertanda panjenengan tidak sengaja tertidur. Ketika ditanya seorang santri, Gus Ali, apa Panjenengan tertidur? Namun Panjenengan jawab, tidak kok Kang. Ketika dijelaskan bahwa, Panjenengan tadi mendengkur keras, terdengarlah tawa panjennegan yang amat menyejukkan hati kami.
Semoga di hati dan jiwa kami senantiasa berjolak cinta dan rindu kepada panjenengan, hingga di suatu entah nanti bisa berkumpul bersama, duduk-duduk, ngobrol dan tentunya ngopi dengan panjenengan lagi. Sekarang ini, sedang apakah panjenengan, Abah? Dengan ibuk di ndalemkah? menemani para tamukah? Atau merebahkan badan di serambikah?
Aku ingat, saat pertama sowan dulu aku meminta saat meminta ayat baro'ah dulu. Engkau ceritakan bagaimana kedahsyatannya. Ya, itu sangat membuat hatiku kian membara untuk mengembara di perjalanan menujunya, seperti Panjenengan. Saat itu, aku masih sangat bocah, kelas 2 di SMAN 2 Pare. Aku sangat gugup, gemetar, takut pada Panjenengan. Namun, senyum cerah Panjenengan mengalihkan ketakutanku. Senyum yang mengalirkan kasih sayang.
Aku ingat, saat ada dua orang santri Panjenengan yang datang ke Gubuk, sehabis ikut mendoakan acara di suatu pernikahan karena mengalami banyak gangguan gaib. Mereka diberi oleh keluarga mempelai sedikit jajan. Jajan tersebut dimasukkan ke dalam plastik. Campur aduklah semua makanan itu, hingga tak ada lagi selera untuk memakannya. Mereka tak sudi memakannya. Namun Panjenengan datang dengan wajah penyambutan, lalu Panjenengan meminta sedikit makanan campur aduk di plastik itu untuk dibawa ke ndalem, untuk diberikan kepada ibuk. Dengan Wajah sumringah, tak ada rasa remeh Panjenengan pada makanan yang amat tak menarik itu. Betapa menghargainya Panjenengan terhadap hal-hal kecil seperti itu.
Aku ingat, dulu panjenengan minta foto panjenengan untuk dicetak. Entah, siapa yang sampai hati memberikan foto jadi itu kepada panjenengan tanpa kaca dan bingkai. Sehingga foto panjenengan yang indah itu panjenengan tempel dengan lakban (Jawa:solasi) hitam. Duh, aku ini bagaimana?
Aku juga ingat, ketika panjenengan sedang memperhatikan kami ngopi dan ngobrol di suatu malam. Sambil sesekali ikut tertawa pertanda ada yang menggelikan dalam perbincangan kami. Tawa yang terlampau menyejukkan hati. Terkadang, dalam hangatnya perbincangan kamipun pernah mendengar panjenengan mendengkur, pertanda panjenengan tidak sengaja tertidur. Ketika ditanya seorang santri, Gus Ali, apa Panjenengan tertidur? Namun Panjenengan jawab, tidak kok Kang. Ketika dijelaskan bahwa, Panjenengan tadi mendengkur keras, terdengarlah tawa panjennegan yang amat menyejukkan hati kami.
Semoga di hati dan jiwa kami senantiasa berjolak cinta dan rindu kepada panjenengan, hingga di suatu entah nanti bisa berkumpul bersama, duduk-duduk, ngobrol dan tentunya ngopi dengan panjenengan lagi. Sekarang ini, sedang apakah panjenengan, Abah? Dengan ibuk di ndalemkah? menemani para tamukah? Atau merebahkan badan di serambikah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar