Setiap saat, panjenengan senantiasa menumpah ruahkan seluruh perhatian kepada mereka. Doa-doa yang tiada henti-hentinya terangkai. Dalam setiap tangan terangkat, tak lupa nama mereka pula ikut disebut. Keselamatan, kedamaian, ketenangan, kemuliaaan serta kebahagiaan lahir-batin, dunia-akhirat. Wajah panjenengan yang cerah, terang benderang itu adalah kemuliaan yang tak terkira bagi sepasang bola mata yang pernah memandangnya. Tangan panjenengan yang penuh belaian kelemahlembutan itu adalah kemuliaan bagi tangan pernah menjabatnya, terlebih menciuminya. Mereka, saat ini masih mengalami kekeringan berkepanjangan yang teramat sangat, tandus, gersang, kering-kerontang. Meski sedemikian berat beban tanggung jawab, namun tidak pernah tersirat di wajah panjenengan yang indah nan cerah itu resah maupun gelisah. Tingginya derajat dan kemuliaan sama sekali tak panjenengan tampakkan. Bahkan, segala yang sederhanalah yang panjenengan sukai. Di pintu kecil, depan pintu ndalem pun tertulis dengan sedehana, "kesederhanaan nunjang kebahagiyaan."
Aku ingat, saat pertama sowan dulu aku meminta saat meminta ayat baro'ah dulu. Engkau ceritakan bagaimana kedahsyatannya. Ya, itu sangat membuat hatiku kian membara untuk mengembara di perjalanan menujunya, seperti Panjenengan. Saat itu, aku masih sangat bocah, kelas 2 di SMAN 2 Pare. Aku sangat gugup, gemetar, takut pada Panjenengan. Namun, senyum cerah Panjenengan mengalihkan ketakutanku. Senyum yang mengalirkan kasih sayang.