Minggu, Maret 31, 2013

Sisa Kopi itu


Suatu pagi, ngopi di Smadapala Pare Campground. Kopinya sudah dingin, dan hampir menuju ampas (Baca;cekakik). Indah tak harus mewah. :)


Photographer: Pradhika Agita (NR: Camp Red '08)
 




Jumat, Maret 22, 2013

Kemana


Kemana


Kaki melangkah seolah ke depan
mata menatap seolah melihat tujuan
tekad kuat seolah menembus awan
Padahal, hanya seorang musafir yang tersesat di jalan.

Ingin kembali, tapi tak tahu jalan pulang
Ingin berlari, tapi takut semakin jauh dari tujuan
Ingin berhenti, tapi takut terlindas oleh keinginan
hanya bisa melangkah, sambil berharap pertolongan.

Tak terasa semakin jauh berjalan
usia semakin terkikis pedang zaman
nafas panjang, berharap berkurangnya beban
semoga semua ada makna, bukan perjalanan kesia-siaan.




Kediri, 22 Maret 2013
 



Ini merupakan suatu puisi karya Gus Ali Musthofa, Blawe. Suatu bentuk perenungan perjalanan bagi para pejalan. Sudah bagaimana yang telah dilakukan oleh para pejalan, dan bagaimana selanjutnya. :)

Rabu, Maret 06, 2013

Duh, Abah...

Setiap saat, panjenengan senantiasa menumpah ruahkan seluruh perhatian kepada mereka. Doa-doa yang tiada henti-hentinya terangkai. Dalam setiap tangan terangkat, tak lupa nama mereka pula ikut disebut. Keselamatan, kedamaian, ketenangan, kemuliaaan serta kebahagiaan lahir-batin, dunia-akhirat. Wajah panjenengan yang cerah, terang benderang itu adalah kemuliaan yang tak terkira bagi sepasang bola mata yang pernah memandangnya. Tangan panjenengan yang penuh belaian kelemahlembutan itu adalah kemuliaan bagi tangan pernah menjabatnya, terlebih menciuminya. Mereka, saat ini masih mengalami kekeringan berkepanjangan yang teramat sangat, tandus, gersang, kering-kerontang. Meski sedemikian berat beban tanggung jawab, namun tidak pernah tersirat di wajah panjenengan yang indah nan cerah itu resah maupun gelisah. Tingginya derajat dan kemuliaan sama sekali tak panjenengan tampakkan. Bahkan, segala yang sederhanalah yang panjenengan sukai. Di pintu kecil, depan pintu ndalem pun tertulis dengan sedehana, "kesederhanaan nunjang kebahagiyaan."
Aku ingat, saat pertama sowan dulu aku meminta saat meminta ayat baro'ah dulu. Engkau ceritakan bagaimana kedahsyatannya. Ya, itu sangat membuat hatiku kian membara untuk mengembara di perjalanan menujunya, seperti Panjenengan. Saat itu, aku masih sangat bocah, kelas 2 di SMAN 2 Pare. Aku sangat gugup, gemetar, takut pada Panjenengan. Namun, senyum cerah Panjenengan mengalihkan ketakutanku. Senyum yang mengalirkan kasih sayang.