Hari itu masih terik, meski matahari sudah agak tergelincir. Teriknya cukup sanggup membuat kulit dialiri peluh. Aku sempat duduk di serambi masjid. Di masjid, aku melaksanakan tugas dari Tuhan. Ya, sholat dhuhur. Lalu, di hampir menuju salam, tibatiba terdengar suatu isyarat dari handphone terbaring di sampingku bergetar lalu berdering. Menandakan ada panggilan. Tak kuhiraukan, hingga berkalikali berbunyi. Sebab, aku masih ingin mengisahkan perjalananku padaNya, melalui baitbait cinta. Seusainya, aku langkahkan kaki kembali ke beranda ruang komputer itu. Untuk melihat mereka yang sedang latihan. Kuberjalan di lorong menuju beranda ke ruang itu. Di beranda ruang itu, sekilas kupandangi, ada dua sosok perempuan. Keduanya berkerudung. Satu dari mereka sangat aktif, periang dan mudah akrab. Satu lainnya, pasif, murah senyum dan pendiam.
Hampir tiap kusebut namamu ratusan kali, kuharap dengannya dipantaskan ini menjadi cinta. Hingga disuatu entah, saat terdengar namamu di telinga ini, namamu itu lebih mampu menjadi obat pemusnah seluruh resah.
Rabu, April 24, 2013
Senja di Kotamu
Hari itu masih terik, meski matahari sudah agak tergelincir. Teriknya cukup sanggup membuat kulit dialiri peluh. Aku sempat duduk di serambi masjid. Di masjid, aku melaksanakan tugas dari Tuhan. Ya, sholat dhuhur. Lalu, di hampir menuju salam, tibatiba terdengar suatu isyarat dari handphone terbaring di sampingku bergetar lalu berdering. Menandakan ada panggilan. Tak kuhiraukan, hingga berkalikali berbunyi. Sebab, aku masih ingin mengisahkan perjalananku padaNya, melalui baitbait cinta. Seusainya, aku langkahkan kaki kembali ke beranda ruang komputer itu. Untuk melihat mereka yang sedang latihan. Kuberjalan di lorong menuju beranda ke ruang itu. Di beranda ruang itu, sekilas kupandangi, ada dua sosok perempuan. Keduanya berkerudung. Satu dari mereka sangat aktif, periang dan mudah akrab. Satu lainnya, pasif, murah senyum dan pendiam.
Sabtu, April 20, 2013
Rabu, April 17, 2013
Lagi
Lagi
Lagi, hari ini jangan kau cemberut
walau usiamu susut, kian surut.
Selangkah menuju perut,
dimana tak seorangpun sudi ikut.
Lagi, hari ini jangan kau sedih,
walau hati merintih, pedih.
Usah kau jadi ringkih,
tebarlah kasih, hingga kau berbalut selimut putih.
Lagi, hari ini jangan kau resah,
jiwa keruh penuh buncah.
usah kedua indah bola matamu itu memerah,
sebab tak kuasa, menahan air hampir tumpah.
Cintai semua jiwa, hingga
kau pulang ke sana,
kau beristirahat dengan tenang,
kau bersemayam dalam rindu dan kenang.
Selamat,
semoga selamat.
Nganjuk, April 2013
Untukmu;
Gus Azziz Efendi dan Wahyu Arum yang pada April ini berulang tahun. Kulo mboten saget maringi noponopo. Namung ucapan niku. Puisi-puisian nginggil niku, mugimugi saget nyemangati njenengan.
Selamat milad Mas, Rum, semoga bahagia damai sentosa sejahtera. Amiin.
Lagi, hari ini jangan kau cemberut
walau usiamu susut, kian surut.
Selangkah menuju perut,
dimana tak seorangpun sudi ikut.
Lagi, hari ini jangan kau sedih,
walau hati merintih, pedih.
Usah kau jadi ringkih,
tebarlah kasih, hingga kau berbalut selimut putih.
Lagi, hari ini jangan kau resah,
jiwa keruh penuh buncah.
usah kedua indah bola matamu itu memerah,
sebab tak kuasa, menahan air hampir tumpah.
Cintai semua jiwa, hingga
kau pulang ke sana,
kau beristirahat dengan tenang,
kau bersemayam dalam rindu dan kenang.
Selamat,
semoga selamat.
Nganjuk, April 2013
Untukmu;
Gus Azziz Efendi dan Wahyu Arum yang pada April ini berulang tahun. Kulo mboten saget maringi noponopo. Namung ucapan niku. Puisi-puisian nginggil niku, mugimugi saget nyemangati njenengan.
Selamat milad Mas, Rum, semoga bahagia damai sentosa sejahtera. Amiin.
Bos Roni
Seingatku, aku punya seorang teman di daerah Keringan, Nganjuk. Kupanggilnya dengan nama bos Roni. Dia beberapa tahun lebih tua dariku. Tinggi, tak terlalu kurus, kulitnya sawo matang ala Indonesia. Sama, dia juga gemar ngopi. Bahkan mungkin lebih akut dia. Motornya Supra sangat jelek, hampir copot semua sayapnya. Namun dia sangat menyayanginya, mungkin ada kisah dibaliknya. Hampir tiap kukesana, jarang kutemu dirumahnya. Kalau demikian, biasanya dia di warung, dan memang benar. Kadang di warung dekat rumahnya, kadang depan SMPN 4 Nganjuk, kadang dekat perempatan utara SMP. Malam itu, di rumahnya kami sedang berbicara tentang hape. Membahas hapeku, nokia yang penuh balutan plastik bening (Jawa:solasi), karena wujudnya sudah agak acak-acakan, namun tetap kupakai karena ada suatu kisah ikut tertumpah padanya. Dia berkisah jaman dia belajar di Nglawak, Kertosono.
Minggu, April 14, 2013
Sore itu
Sore itu, langit Sumengko menangis cukup lama. Sesekali disertai Gelegar halilintar yang cukup cetar membuat jantung menuju debar. Aku sms dia, namun cukup lama tidak ada jawaban. Dalam rangka menunggu itu, aku diganggu rasa bersalah. Aduh, bagaimana ini? Entah. Aku jadi bingung sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)

.jpg)