Pagi, aku bersama kopi manis
buatan nenek. Sedang langit Sumengko
entah kenapa, seolah tak ikut gembira
merayakannya. Padahal ini hari Ibu
Apa karena tiada lagi lilin menyala
kue-kue, bunga-bunga, balon-balon
terompet, tepuk tangan dan nyanyian.
Tak ada ucapan selamat!
Ataukah teringat alangkah nelangsa
nasib Ibunya, Ibu Pertiwi, Ibu Bumi
memandangi mereka gemar adu mulut
bahkan saling sikut demi isi perut
Alangkah sayang, alangkah malang
Betapa nestapa dia!
Kemarin sore, sebelum kucium
punggung tanganmu, pipi kiri juga kanan
kulihat langit cerah yang bening
dalam matamu. O, cantik sekali. Cantik!
Apa kabar Ibu?
semoga Engkau bahagia
dan senantiasa damai sentosa
Amin
Nganjuk, 2013