Minggu, Desember 15, 2013

Ulang Tahun

Pagi yang mendung, seperti ikut tertunduk. Sedih. 
Mendengar kabar tentang umurku
telah hilang setahun
Seolah ikut mengembarakan doa 
Kepadaku

Pada selembar kertas putih
telah merebah sekumpulan cinta
kuamati, aku kenal hurufhuruf ini
titik, garis, kata jadi kalimat
ada kebahagian disitu
mengalir dari hulu nurani, ruhani
jantung lalu dilarung darah
melewati loronglorong melalui
jemari, bergetar di ujung pena
biru:

"Selamat ulang tahun mas. Semoga panjang umur & banyak rejeki. Dari Ayah, Ibu, Lona..."


Dua puluh dua tahun lalu
aku berdiam dalam goa sunyimu, Ibu.
Setelah lama menunggu, di jiwamu, Ayah.
dan selama itu, tak jarang
aku hanya mengundang;

Halilintar yang menyambar-nyambar jantung jadi bergetar. Mengguncang rumah jiwa!
Gempa

Gumpalan mendung hitam
yang meloloskan diri, dari mata kalian.
Jadi hujan deras!
Banjir

Wahai Kau yang menimangku
Wahai Kau yang dadanya sesak olehku
Wahai kau yang mengasih-sayangi sepanjang jalan
Di malam hening tanganmu tengadah
sedang air dimatamu tertumpah

Duh, sungguh segenap seluruh ini
Maaf, ampun, ridhoilah aku.
Darah-dagingmu
...



2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar