Hampir tiap kusebut namamu ratusan kali, kuharap dengannya dipantaskan ini menjadi cinta. Hingga disuatu entah, saat terdengar namamu di telinga ini, namamu itu lebih mampu menjadi obat pemusnah seluruh resah.
Selasa, Mei 28, 2013
Bagaimana kami simpuh
Pada pendar malam yang hampir jumpa fajar
ada suatu sunyi melangitkan puja-puji
di tepi surau sederhana nan damai
Aku didekap hangat oleh angin dingin
tertunduk lugu mengeja aksara makna
meresapi getar yang merambat getir
melalui bait-bait menuju samudra rindu
Kudengar suara Engkau batuk-batuk
yang sanggup membuat mata mereka
redup memerah, membendung air hangat
yang di kedua pipi gemar menggeliat
ada suatu sunyi melangitkan puja-puji
di tepi surau sederhana nan damai
Aku didekap hangat oleh angin dingin
tertunduk lugu mengeja aksara makna
meresapi getar yang merambat getir
melalui bait-bait menuju samudra rindu
Kudengar suara Engkau batuk-batuk
yang sanggup membuat mata mereka
redup memerah, membendung air hangat
yang di kedua pipi gemar menggeliat
Senin, Mei 20, 2013
Duduk simpuh
Oleh; Gus Ali Musthofa, Blawe
Duduk simpuh di depan sang Abah
mendengar untaian kalimat fatwa
Memandang wajah mulia yang penuh tawa
dengan sebatang rokok di sela jari agungnya
Kucuran perhatian suci kuterima dengan bangga
Melenyapkan kekecewaan yang menyayat jiwa
Kalimat syukur kumandang lantang dalam dada
karena sebutir debu hina
beliau ijinkan melekat, di pojok sarung mulia
Duduk simpuh di depan sang Abah
mendengar untaian kalimat fatwa
Memandang wajah mulia yang penuh tawa
dengan sebatang rokok di sela jari agungnya
Kucuran perhatian suci kuterima dengan bangga
Melenyapkan kekecewaan yang menyayat jiwa
Kalimat syukur kumandang lantang dalam dada
karena sebutir debu hina
beliau ijinkan melekat, di pojok sarung mulia
Kediri, 24 April 2013
Rabu, Mei 15, 2013
Guratan Bambu
Di selasela bambu gubuk derita
gurat-guratnya tersirat cerita
Sejak kali pertama aku-kau jadi kita
lalu lebur di alam sebagai pecinta
Bila hangat enggan menggeliat
atau kala putus semangat, maka mari lihat:
Air musti lembut mengalir
bila beku, demi apa tak ikut cair?
Rabu, Mei 01, 2013
Biar
Biar!
Biar saja, lidah yang pahit ini,
makin getir.
Jangan kau gentar!
Biar!
Biar saja, rambut yang kusut ini,
makin kasau.
Jangan kau kalut!
Biar saja, lidah yang pahit ini,
makin getir.
Jangan kau gentar!
Biar!
Biar saja, rambut yang kusut ini,
makin kasau.
Jangan kau kalut!
Langganan:
Komentar (Atom)