Selasa, Mei 28, 2013

Simbahku, Siti Juwariyah


Bagaimana kami simpuh

Pada pendar malam yang hampir jumpa fajar
ada suatu sunyi melangitkan puja-puji
di tepi surau sederhana nan damai
Aku didekap hangat oleh angin dingin
tertunduk lugu mengeja aksara makna
meresapi getar yang merambat getir
melalui bait-bait menuju samudra rindu
Kudengar suara Engkau batuk-batuk
yang sanggup membuat mata mereka
redup memerah, membendung air hangat
yang di kedua pipi gemar menggeliat

Senin, Mei 20, 2013

Duduk simpuh

Oleh; Gus Ali Musthofa, Blawe


Duduk simpuh di depan sang Abah
mendengar untaian kalimat fatwa
Memandang wajah mulia yang penuh tawa
dengan sebatang rokok di sela jari agungnya
Kucuran perhatian suci kuterima dengan bangga
Melenyapkan kekecewaan yang menyayat jiwa
Kalimat syukur kumandang lantang dalam dada 
karena sebutir debu hina
beliau ijinkan melekat, di pojok sarung mulia



Kediri, 24 April 2013

Rabu, Mei 15, 2013

Guratan Bambu

Di selasela bambu gubuk derita
gurat-guratnya tersirat cerita

Sejak kali pertama aku-kau jadi kita
lalu lebur di alam sebagai pecinta

Bila hangat enggan menggeliat
atau kala putus semangat, maka mari lihat:

Air musti lembut mengalir
bila beku, demi apa tak ikut cair?

Rabu, Mei 01, 2013

Biar

Biar!
Biar saja, lidah yang pahit ini,
makin getir.
Jangan kau gentar!

Biar!
Biar saja, rambut yang kusut ini,

makin kasau.
Jangan kau kalut!