Rabu, Mei 15, 2013

Guratan Bambu

Di selasela bambu gubuk derita
gurat-guratnya tersirat cerita

Sejak kali pertama aku-kau jadi kita
lalu lebur di alam sebagai pecinta

Bila hangat enggan menggeliat
atau kala putus semangat, maka mari lihat:

Air musti lembut mengalir
bila beku, demi apa tak ikut cair?
Api musti tegar berkobar
bila redup, demi apa tak lekas membakar?

Tanah musti tabah diinjak
bila gersang, demi apa tak menanti basah?

Udara musti rela dihela
bila angin, demi apa tak tulus menghembus?

Adalah mereka tersemayam kalam-kalam
Tuhan hendak mengajari insan di alam

Ilmu yang bernyawa aksara gerak laku
buku yang tak melulu rumus-teori beku

Kini air, api, tanah, udara dirimu
kenapa mereka ikut akut kusut kasau

Kita damba seperti mereka
atau, selamanya hanya reka-reka

Kita ini sekutu atau justru seteru
kenapa sulit bertemu setuju

Lihatlah lama-lama lalangpun layu
lambat laun letih lesu lalu luruh

Di selasela bambu gubuk inap
sebagian jiwa tiang nyawa hampir lenyap

ramai merayap lalu sunyi senyap
terang sekejap lalu kembali penyap

lama kita tak berjabat erat
mewakili betapa rindu kian berat

lama kita tak bercakap hangat
riwayat masa selepas gelap sahabat


Kediri, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar