Guratan Bambu
Di selasela bambu gubuk derita
gurat-guratnya tersirat cerita
Sejak kali pertama aku-kau jadi kita
lalu lebur di alam sebagai pecinta
Bila hangat enggan menggeliat
atau kala putus semangat, maka mari lihat:
Air musti lembut mengalir
bila beku, demi apa tak ikut cair?
Api musti tegar berkobar
bila redup, demi apa tak lekas membakar?
Tanah musti tabah diinjak
bila gersang, demi apa tak menanti basah?
Udara musti rela dihela
bila angin, demi apa tak tulus menghembus?
Adalah mereka tersemayam kalam-kalam
Tuhan hendak mengajari insan di alam
Ilmu yang bernyawa aksara gerak laku
buku yang tak melulu rumus-teori beku
Kini air, api, tanah, udara dirimu
kenapa mereka ikut akut kusut kasau
Kita damba seperti mereka
atau, selamanya hanya reka-reka
Kita ini sekutu atau justru seteru
kenapa sulit bertemu setuju
Lihatlah lama-lama lalangpun layu
lambat laun letih lesu lalu luruh
Di selasela bambu gubuk inap
sebagian jiwa tiang nyawa hampir lenyap
ramai merayap lalu sunyi senyap
terang sekejap lalu kembali penyap
lama kita tak berjabat erat
mewakili betapa rindu kian berat
lama kita tak bercakap hangat
riwayat masa selepas gelap sahabat
Kediri, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar