Sesosok
wanita perkasa. Sosok pengasih, penyayang, santun, lemah lembut.
Garis-garis yang membekas tegas di wajah panjenengan itu, adalah garis
perjuangan. Garis yang suatu kelak akan kami rindukan alur-alurnya.
Sebagai kisah kasih seorang wanita yang ikut berjuang gigih dalam
kebersahajaan hidup. Merawat dan mendidik anak-anak, cucu-cucu dengan
cinta. Tak perlu ditanya apa itu cinta pada panjenengan.
Karena, cinta sudah mendarah daging pada seluruh penuh ruang jiwa
panjenengan, untuk kami. Selalu, setiap aku pulang ke ndalem panjenengan, di
Sumengko. Ada percakapan khas;
Le, tak gawekne kopi yaa? kata panjenengan dengan halus. Mboten, mengke tak ndamel kiyambak mbah. Kataku. ora opo-opo, tak gawekne ya? ujar panjenengan, seperti sangat ingin membuatkan Kopi. Nggih pun, manut kulo. Kataku.
Cucu panjenengan yang; kurus, tinggi, berambut panjang, pengangguran, gak mau kuliah formal, tukang ngopi, yang kadang bikin jengkel panjenengan itu, yang semenjak bayi penjenengan rawat, panjenengan ingat-ingat mbah, Insha Allah nanti jadi cucu yang mbarokahi, dhohiron wa bathinan. ^^
---Ayo, sudah ngopi belum pemirsa?
Le, tak gawekne kopi yaa? kata panjenengan dengan halus. Mboten, mengke tak ndamel kiyambak mbah. Kataku. ora opo-opo, tak gawekne ya? ujar panjenengan, seperti sangat ingin membuatkan Kopi. Nggih pun, manut kulo. Kataku.
Cucu panjenengan yang; kurus, tinggi, berambut panjang, pengangguran, gak mau kuliah formal, tukang ngopi, yang kadang bikin jengkel panjenengan itu, yang semenjak bayi penjenengan rawat, panjenengan ingat-ingat mbah, Insha Allah nanti jadi cucu yang mbarokahi, dhohiron wa bathinan. ^^
---Ayo, sudah ngopi belum pemirsa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar