Pada pendar malam yang hampir jumpa fajar
ada suatu sunyi melangitkan puja-puji
di tepi surau sederhana nan damai
Aku didekap hangat oleh angin dingin
tertunduk lugu mengeja aksara makna
meresapi getar yang merambat getir
melalui bait-bait menuju samudra rindu
Kudengar suara Engkau batuk-batuk
yang sanggup membuat mata mereka
redup memerah, membendung air hangat
yang di kedua pipi gemar menggeliat
duh, sungguh Engkau kian sepuh
lalu bagaimana nanti kami simpuh
mengingat betapa kami tak penuh;
saat damai berubah ricuh
saat bening tiba-tiba keruh
saat hening mendadak gaduh
saat niat-tekad tak gemuruh
saat kami lumpuh dihempas keluh
saat kami rubuh, kehilangan tubuh
Alangkah Engkau dicinta yang Maha pemilik seluruh
dengannya, semoga kami lekas utuh
Kediri, 21 Mei 2013
ada suatu sunyi melangitkan puja-puji
di tepi surau sederhana nan damai
Aku didekap hangat oleh angin dingin
tertunduk lugu mengeja aksara makna
meresapi getar yang merambat getir
melalui bait-bait menuju samudra rindu
Kudengar suara Engkau batuk-batuk
yang sanggup membuat mata mereka
redup memerah, membendung air hangat
yang di kedua pipi gemar menggeliat
duh, sungguh Engkau kian sepuh
lalu bagaimana nanti kami simpuh
mengingat betapa kami tak penuh;
saat damai berubah ricuh
saat bening tiba-tiba keruh
saat hening mendadak gaduh
saat niat-tekad tak gemuruh
saat kami lumpuh dihempas keluh
saat kami rubuh, kehilangan tubuh
Alangkah Engkau dicinta yang Maha pemilik seluruh
dengannya, semoga kami lekas utuh
Kediri, 21 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar