Siang itu, aku tengah pulas dalam tidur. Entah mengapa, mataku ini terasa berat. Padahal, semenjak pagi aku tidur, lalu agak siang aku bangun. Niatnya sudah saya cukupkan tidurku hari itu. Tapi, mataku ini tak setuju begitu saja dengan keputusanku. Di hampir tengah siang hari, mataku ini kembali terasa berat, yah akhirnya terpaksa kupilih melanjutkan mengarungi alam mimpi, bersama selimut bergarisgaris. Ditengah tidurku, pukul 13:30:02 sebuah handphone Nokia di sudut kamar, yang sebelumnya tenang tibatiba bergetar lalu singkat berbunyi. Oh, ada ada pesan masuk rupanya. Kuraih hp tersebut, kuamati ternyata pesan dari Kakang Gus Ali, Blawe. "Engko jam 8 bengi, repot gak kik? Tanya Beliau. "Insha allah mboten repot mas....," Jawabku. Lalu, cukup lama tak ada balasan. Hingga ada pesan masuk lagi, kubaca "Engko nek gak repot, pean reneo, nginep nang Gubuk. Cangkingne duit 350rb nggone mas Riki." Balas Beliau, mengajak menginap di PGB, Blereng. Sambil ngalap berkah, menghirup udara kedamaian yang berkesiuran di PGB, juga untuk memuaskan suatu kerinduan.
Hari telah cukup petang, akupun bergegas melesat menuju Rumah Gus Ali. Di perjalanan, ada beberapa hal yang sekilas kupikirkan, jalanan Pagu-Bogo ini kapan diperbaiki, sebab lubang telah cukup membahayakan pengendara. Terutama malam hari, dimana pencahayaan kurang. Juga, tambalantambalan yang kurang rapi, nampak menonjol di beberapa ruas jalan. Apakah sesibuk itu dinas PU hingga bahkan untuk memperbaiki jalan saja menunggu banyaknya laporan warga, atau memang perlu semacam jatuh korban kecelakaan dulu, biar membuktikan bahwa jalan itu memerlukan perhatian? Entah. Padahal kalau dibuat proyek tentunya akan ada ceperan. Ceperan atau apalah istilahnya, yang dewasa ini kian merakyat, kian dilumrahkan. Sesampainya disana, kulihat beliau tengah duduk di lincak belakang, samping kolam. Bersama nyala merah, sebuah rokok Grendel Biru. Kuamati, Beliau tidak seperti biasanya. Benar, ternyata Beliau agak kurang enak badan. Dan, orang yang keluar berpapasan denganku di pintu itu, memang baru saja selesai memijatinya. Meski begitu, kecerahan dan rekah senyum tak layu dari wajahnya. Cukup lama kami berbincang, membahas ikhtiar jasmaniah dan rohaniah, perjalanan, citacita, bisnis hingga doadoa, wiridwirid dan lainlainnya. Kudiam, membiarkan seluruh yang hinggap melalui telingaku itu mengendap, dan agar dapat meresap. Menunggu riuh kembali hening, mengendapkan keruh menuju bening. Sampai pada hari yang kian menuju tengah malam, Beliau mengajak untuk ritual yang sudah seperti adat tradisi, kalau tak salah semenjak aku duduk di bangku kelas dua SMA. Ritual sederhana, tersimpan berbagai makna perjalanan untuk di tafsiri melalui kepulan uapuapnya. Ya, ngopi. Malam itu kebetulan di warung Gedangan, Blawe.
Di warung itu, kopinya disajikan dalam wadah cangkir seng kecil. Sangat kusayangkan, kopinya agak bening encer seperti teh. Yah, lumayan ketimbang aku kurang seimbang sebab tak ngopi, minimal buat syarat tetap sehat. Wah, selain itu ternyata kopi yang disajikan, kurang mendidih airnya, hal ini membuat Beliau yang kurang enak badan bertambahlah kedatangan tamu Kembung. Tak selang lama di warung itu, lalu kami menuju Gubuk. Jalanan amat lengang, lalu lalang motor sangat sepi. Bahkan, hanya beberapa buah saja yang berpapasan dengan motorku. Rembulan sebagai lentera malam, nampak tak hadir. Tanggal tua mungkin. Sebelum sampai, kami hendak mampir di warung, untuk mengisi perut dengan menu yang cukup merakyat, sego jangan lodeh. Menu itu pulalah yang cukup mampu membangkitkan mood gus Ali. Namun, kali itu kami kurang beruntung, warung sudah memadamkan lampunya, pertanda sudah tutup. Di suatu beranda rumah, sebelah warung itu, ada dua orang gadis yang cukup intens berbincang, satu berjaket berkerudung biru, satu lainnya cuma memakai kaos oblong dan celana, padahal malam itu cukup dingin loh, tapi dia tampak enjoy aja, heran aku. Ternyata, mereka langsung melihat, saat sorot lampu motorku jatuh kepada mereka. Mungkin silau, ya? Saking aku fokusnya ingin ngincip sego jangan lodeh, sampai aku tak menyadari kalau aku sedang ditatap cukup tajam oleh salah seorang dari mereka, yang memakai jaket dan kerudung biru. Namun, nampaknya dia tak menangkap wajahku, sebab terlalu remangremang.
Tak lama kemudian, selamat datang di Gubuk Barokah. Sampailah kami, namun Gubuk juga sepi, hanya ada sebuah sepeda onthel dan sebuah peci tergantung di setirnya. Kuterka, itu sepeda yang seringkali kang kholis gunakan untuk ziarah ke makammakam. Kuamati, Kang Kholis tak ada. Lalu, kami menuju rumah Mbah Sum/Kyai Ma'shum (barat langgar) yang entah sedang menggarap apa di samping rumah Beliau, sebab nyala lampu sangat terang. Oh, ternyata sedang menata tempat untuk anakanak yang belajar ngaji. Karena, ruang tamu dan teras rumah Beliau sudah tak memadai menampung jumlah mereka. Beliau mengenakan sarung putih lusuh dan kusut, kaos dalam hijau kehitaman yang ada sedikit lubanglubangnya di bagian bawah. Nampak bersejarah kaos beliau itu. Terdengar tawa khas Mbah Sum, memberi penyambutan kepada kami. Rasanya, tawa Beliau sangat mirip dengan kakaknya, Abah. Damai sekali kudengar tawanya, hingga kutak sadar berkalikali disuruh meminum kopi sisanya, sebab melamun. Beliau bercerita bahwa, baiknya seorang tamu itu harus menikmati jamuan tuan rumah. Seperti halnya kisah seorang santri yang tengah puasa dan sudah beberapa tahun, santri ini sowan kepada Kyai Thoyib, Krian. Santri ini dipaksa meminum minuman yang diberikan Sang Kyai. Berkalikali santri ini mengatakan, "kulo soum Kyai, kulo soum Kyai," namun berkalikali pula Kyai Thoyib memaksanya untuk meminum. Bahkan semakin keras nada perintahnya pada santri sowan ini. Tak ada pilihan lain bagi si santri, ia pun meminumnya. Hal seperti ini tentu menimbulkan tanda tanya besar, apa maksud dan tujuan sang Kyai. Begitulah keanehan kekasihkekasihNya, tak heran bila menimbulkan su'udzon dan kontroversi. Sebab umumnya diri ini masih buta, tuli di kegelapan jalan (Jawa:budhek, picek), sedang Beliau sudah sadar dan terbuka mata dan telinganya dan senantiasa disinari cahaya petunjukNya. Betapa sulit dan rumit mencerna kebijakan seperti ini, betapa berat untuk Khusnudzon (berbaik sangka) pada Beliau dan KekasihkekasihNya. Alangkah baiknya bila diri ini patuh. Itu baru berbaik sangka pada Kekasih-KekasihNya, belum pada NYA.
Ditengah asyiknya mbah Sum bercerita, dari kegelapan nampak wajah yang bercahaya, mengenakan sarung hijau, tinggi gagah, berkopiah putih. Benar, Abah. Hatiku girang sebab tak kusangkasangka, akan kedatangan Abah. Kupikir tadinya Abah tidak di ndalem, sebab nampak sepi. Langsung saja, aku dan gus ali sungkem dan menciumi punggung tangan penuh kemuliaan itu. Betapa rasanya aku kaya mendadak. "loh, kang Ali, lhakok karo mas Eki iki", kata Abah, menanyai Mas ali. "enggih Bah", jawab gus ali. Seperti biasa, Abah tak mengenakan pakaian atasan. "Sumuk kang...", kata Abah. Lalu, Abah melihatlihat keadaan sekitar sambil ikut mendengarkan adiknya bercerita. Alangkah sangat mendamaikan keguncangan, kesedihan, kegalauan jiwa saat memandangi wajah beliau yang cerah dan teduh. Sambil sesekali senyum manis beliau mencair dari bibir lembutnya. Menuju kebekuan jiwajiwa gelap di diriku. Membasahi kegersangan hati ini. Agar kembali gembur dan subur. Sehingga dengan begitu, apapun benih kemuliaan yang ditanam, insha allah akan dapat tumbuh dan berkembang. Memandanginya membuat kian semangat meniru jejakjejak perjalanan masa mudanya. Meskipun pastinya tak sehebat beliau. Tawanya yang khas, polos dan menyejukkan itu, selalu saja mampu membuat kekangangenan kian kronis, pada beliau. Tak lama kemudian, Abah menuju ke surau, untuk glendangan. "Tak ning Mesjid sik kang, glendangan. ayo kang yo", kata Abah, sambil melangkah. Di hampir pagar rumah mbah Sum, Abah berhenti sebentar lalu berkata, "Loh, Mas Eki teko endi iki mau Mas? Tanya Abah. "Saking Blawe Bah" jawabku sambil memerhatikan Abah yang melangkah menuju masjid.
Singkat cerita, di masjid Abah mengisahkan masamasa mudanya dahulu. Masa Tabarrukan ke para Kyai dan di pesantrenpesantren. Beliau bercerita bahwa, dahulu beliau ketika ngalap berkah pada seorang Gus, di suatu pondok. Disana, Beliau hanya dibekali capil dan arit, seperti halnya santri lain. Ya, Beliau di suruh ngarit dan membantu santrisantri Gus tersebut untuk menggarap sawah. Sebab, sawah Gus tersebut berhektarhektar luasnya. Banyak yang mondok disana hanya disuruh menggarap sawah, ngarit. Bahkan ketika Abah berteduh, beliau ngobrol dengan santri yang cukup lama disitu. Sudah selama sepuluh tahun mondok cuma disuruh nggarap sawah dan ngarit. Cukup mengherankan manakala mondok tak diajari ngaji namun disuruh ngarit dan nggarap sawah. Namun anehnya, ketika pulang kampung (boyong), sudah menjadi orang yang hebat di daerah masingmasing. Pernah juga suatu ketika, Abah juga pernah sowan pada Kyai Hamid Abdillah, Pasuruan, Abah disambut Kyai Hamid dan diajak duduk di samping Beliau. Beliau berkata, "sing sabar nak yoo, sing sabar..." sambil mengusapusap kepala Abah yang rambutnya sangat pendek saat itu. Hingga bercerita tentang salah satu Guru Abah, Kyai Husain, Brangkal. Yang mendatangi ndalem, untuk menghentikan riyadloh-riyadlohnya Abah.
Pada malam itu, saking banyaknya yang Abah ceritakan saat masa mudanya dahulu, sampai aku lupa bagaimana detaildetailnya. Sebab, rasanya seperti aku tenggelam ikut hanyut pada samudra kasih sayang Beliau. Atau rasanya, kasih sayang Beliau itu serupa lebatnya air hujan membasahi tanah tandus gersang kering kerontang di jiwa, yang cukup lama dilanda kemarau yang berkepanjangan. Dan kalau aku tulispun, tentunya diriku ini sangat kurang mampu. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Abah menyalakan lampu senter untuk melihat jam dinding, jam dinding telah menunjukkan pukul 01.30 dini hari, lalu pulang ke ndalem. Kamipun ngobrol di serambi masjid, sambil menanti waktu subuh. Di gothak'an Kang Kholis, biasanya aku nunut tidur meredakan rasa kantuk yang cukup teramat. Sampai nanti setelah mentari cukup terang, kami pulang. Dengan membawa benihbenih tanaman kemuliaan yang Beliau tanam. Setelah tanah yang sebelumnya tandus, beliau hujani dengan kasih sayang hingga berubah bencah, gembur dan subur. Betapa malam itu adalah malam yang sangat tak mampu ditulis melalui hurufhuruf. Adapun untuk tulisan ini sebagai secuil coretan sketsa kronoligi kejadian pada malam itu, di PGB. Yang jika pada suatu nanti kurindui suasana di malam itu, catatan sederhana ini bisa semakin memperparah kekangenanku. Semoga dan semoga debu hina dina ini dan Panjenengan semua pendherek Beliau, diijinkan melekat di pojok sarung mulia. :)
Nganjuk, 23 mei 2013. Dalam Sumengko malam yang sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar