Rabu, April 17, 2013

Bos Roni

Seingatku, aku punya seorang teman di daerah Keringan, Nganjuk. Kupanggilnya dengan nama bos Roni. Dia beberapa tahun lebih tua dariku. Tinggi, tak terlalu kurus, kulitnya sawo matang ala Indonesia. Sama, dia juga gemar ngopi. Bahkan mungkin lebih akut dia. Motornya Supra sangat jelek, hampir copot semua sayapnya. Namun dia sangat menyayanginya, mungkin ada kisah dibaliknya. Hampir tiap kukesana, jarang kutemu dirumahnya. Kalau demikian, biasanya dia di warung, dan memang benar. Kadang di warung dekat rumahnya, kadang depan SMPN 4 Nganjuk, kadang dekat perempatan utara SMP. Malam itu, di rumahnya kami sedang berbicara tentang hape. Membahas hapeku, nokia yang penuh balutan plastik bening (Jawa:solasi), karena wujudnya sudah agak acak-acakan, namun tetap kupakai karena ada suatu kisah ikut tertumpah padanya. Dia berkisah jaman dia belajar di Nglawak, Kertosono.
Dia pernah ingin melihat cewek sampai memanjat dinding pondok dan ketahuan, kakinya ditarik dan terjatuh sebelum akhirnya dihukum. Hingga, sampailah pada suatu suasana hening saat dia bercerita bahwa, dia ingin menikah namun belum menemukan seorang gadispun. Bos, sampean gak duwe kenalan arek wedok? tanya dia padaku. Kulihat, sorot matanya memancar kesedihan. Wah, jane yo nduwe mas, tapi yo jik podo sekolah. Kataku. Karena, memang saat itu aku masih SMA. Nek nduwe bos ya, tolong aku dikenalne, elek-elek'an gak opo-opo kok bos, tenan. Ucapnya memilukan. Aduh! Hatiku miris sekali rasanya, seolah hatiku ikut larut seperti yang Kang Roni rasakan. Suatu keinginan yang cukup lama belum tersampaikan. Tak lama kemudian
ngobrol itu usai, lalu kami pergi ke warung. Ya, untuk ngopi.
Beberapa bulan berlalu, seingatku waktu itu selepas lebaran. Aku rindu padanya, akupun bertolak ke Nganjuk. Teng pundi, Bos? Kata smsku. Ning RSUD Nganjuk, Bos. Balasnya. Loh, sinten sing sakit? Tanyaku. Abahku Bos. Jawabnya. Tak lama, aku sampai di RSUD. Aku melihatnya sedang bersandar pada sebuah tiang, bersama seplastik kopi di sampingnya. Sepertinya sedang berpikir masalah biaya. Di kamar itu, kulihat Abahnya sedang istirahat. Lalu aku ngobrol tentang keadaannya, dalam rangka rindu. Pripun Mas, mpun nikah? Tanyaku, tentang statusnya. Alhamdulillaaaaaah, uwis boos..!! Ucapnya dengan sepenuh hati sangat cerah sumringah, kontras dengan saat ia berkisah malam itu, yang memilukan. Akupun ikut bahagia. Loh, pripun ceritane mas? Tanyaku. Ngene bos, pas aku dulin ning cafe, ngopi, tak iwasi ning mejo sebelah enek cewek dewean. Tak parani to bos, tak jaluk'i nomer hapene. Terus tak jak sms-an cuma telung dino. Mari iku tak jak nikah. Tak kek'i waktu seminggu bos. Gelem yo ayo, nek gak gelem yo ora opo-opo. Arek'e buingung bos. Akhire arek iku gelem. Paparnya, menceritakan kisah indahnya menuju ibadah besar, nikah. Mari nikah, isuk-isuk aku kaget bos. Ucapnya. Lho, kaget lapo mas? tanyaku. Bojoku iki kerjane opo, kok isukisuk wis macak ruapi, gawe seragam bos. Bak'e bojoku iku bidan, Bos. Wis diangkat pegawai negeri pisan. Ujaranya heran bercampur senang. Wah, lha kok enak sampean. Ucapku agak menggoda bernada kurang terima, kalau Bos Roni yang sangat bersahaja, kurang merawat diri, acak-acakan itu mendapat jodoh yang cantik, baik dan sudah punya kerjaan pula. Apalagi, tak butuh kesulitan yang cukup berarti untuk mendapatkannya. Sepertinya kok janggal. Namun, itu kehendakNya. Terakhir ketemu, hari raya. Dia sudah memiliki seorang putri. Penampilannya pun, kini sudah agak terawat, dan kegantengannya pun meningkat pesat. Ternyata, keprihatinan batinnya dalam usaha mencari jodoh, hingga dia menyerah pasrah tak ingin mulukmuluk mendapat jodoh, asal ada perempuan mau, tak harus cantik, dia akan ajak nikah. Namun, malah ia diberi sesuatu yang jauh dari prasangkanya. Yaitu, jodoh yang cantik lagi baik dan tersholihah untuknya. Semoga, Panjenengan kian bahagia damai sentosa sejahtera, Bos! Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar