Rabu, April 24, 2013

Senja di Kotamu


Hari itu masih terik, meski matahari sudah agak tergelincir. Teriknya cukup sanggup membuat kulit dialiri peluh. Aku sempat duduk di serambi masjid. Di masjid, aku melaksanakan tugas dari Tuhan. Ya, sholat dhuhur. Lalu, di hampir menuju salam, tibatiba terdengar suatu isyarat dari handphone terbaring di sampingku bergetar lalu berdering. Menandakan ada panggilan. Tak kuhiraukan, hingga berkalikali berbunyi. Sebab, aku masih ingin mengisahkan perjalananku padaNya, melalui baitbait cinta. Seusainya, aku langkahkan kaki kembali ke beranda ruang komputer itu. Untuk melihat mereka yang sedang latihan. Kuberjalan di lorong menuju beranda ke ruang itu. Di beranda ruang itu, sekilas kupandangi, ada dua sosok perempuan. Keduanya berkerudung. Satu dari mereka sangat aktif, periang dan mudah akrab. Satu lainnya, pasif, murah senyum dan pendiam.
Inisial kedua perempuan ini sama, 'R'. Keduanya tengah belajar di sekolah menengah atas keagamaan. Satu dari mereka belajar di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah. Sedang satu lainnya, di Madrasah Aliyah Negeri. Dia yang berinisial RF, tengah belajar di MAN, mengenakan baju biru muda, kerudung biru muda, sepatu hitam. Ekspresi wajahnya halus. Bahkan ketika aku dan teman di sampingnya tertawa karena suatu kelucuan, dia hanya menanggapi dengan tersenyum lembut. Singkat cerita, aku minta tolong pada RF ini. Dengan wajah polos, halus, lembut dan teduh, sambil mengalir senyum manis dari bibirmya saat kutatap, dia mengiyakan permintaanku. Tanpa ada penolakan maupun keberatan di wajahnya. Dia, sore nanti kumintai untuk membonceng sepupuku perempuan, yang aku antar siang tadi, hari itu. Lalu, sampai sebelum hujan lebat, mulailah gerimis membuat terpaksa berteduh. Di senja pada suatu sekolah menengah pertama, di Kotamu itu. 

Senja itu, langit memulai tangisnya dengan perlahanlahan, lalu rintikrintik berderai mulai ramai, yang untuk kesekian kalinya ia tampil hebat sebagai hujan lebat. Angin mulai perlahan ditinggal tanggal kehangatan, hingga tak tersisa selain hawa dingin yang membelai. Mendung kian ikut akut bergelayut di kakikaki langit, membuat kian sulit tak hanyut pada denyut suasana. Petir sebagai petasan alam, merdu menggelegar menuntun dada menuju debar. Tak urung, langit yang sedari tadi nampak dirundung murung, kian hanyut menumpahkan tangis pilu. Sepilu relung ruang paling renung di jiwa saat itu. Entah, saat duduk diam sambil memamdangi rintikrintik hujan dan sesekali kutatap langit yang murung itu, doa macam apa yang kulangitkan diselasela curahan rahmat yang tumpah melalui rinai hujan itu. Sebab, kudengar saat hujan dan seusainya, doa lebih dijawab, dan aku meyakini hal itu. Sepertinya lebih kepada perenungan dan pengisahan perjalananku kepadaNya. Kuhirup dalamdalam udara, kuharap ia mampu merendam hingga tenggelam di kedalaman jiwa, seluruh kelam lebam yang menyergah. Disamping bangunan tua itu, kumasih berteduh menanti rinai yang tak kunjung henti. Kuamati kau menikmati suasana dengan mereka. Ya, mungkin demi melupakan dingin. Bercanda, dan tak lama kemudian lalu tertawa bersama. Masamasa itu, masihlah masamu putih abuabu. Masa belajar berdiri untuk dikemudian berjalan. Masa belajar melangitkan layanglayang. Masa dimana dihampir semua jiwa mulai merekah, bagai puspita. Sedang masamasa itu, masaku berjalan menapaki jejak setapak demi setapak di suatu perjalanan menuju kesana. Seperti perjalanan layanglayang kala hendak terbang melangit. Kesederhanaan terbangnya sanggup melangitkan doa dan harapan. Masa memeras seluruh isi puspita, semata agar keluar minyak yang harum, untuk mengharumkan kehidupan. Kulihat, ada senyum yang sesekali mengalir lembut dari bibirmu, selembut makhluk yang dengannya ditumbuhkan kehidupan. Iya, air. Senyum selembut air yang mencair dari langit, yang hingga kini masihlah membekas. 

Senja itu, kerudung biru mudamu berkibar, setegar petir untuk membuat langit gempar. Sesantun rinai yang ramai berderai di rimbun dedaun. Seanggun daundaun, yang mengalun tulus dihembus angin. Sepasrah tanah menatap langit menanti air, untuk dapat berjumpa dengan basah. Seirama dengan baju biru mudamu, yang sangat basah kuyup didera hujan lebat. Bersama motor mio merah, yang telah dinodai oleh lumpur, kau melesat cepat menuju desa masa lalu itu. Menyibak aliran air di jalanan aspal halus berlubang, yang dulu tiap incinya ikut merekam jejakjejak roda suatu sepeda gunung, milik seorang bocah tinggi kurus. Segala buncah kian marak menyergah rumah jiwa, seluruh percampurbauran suasana, yang rumit, sulit terbaca melalui makna. Entah dengan kamus macam apa bisa diterjemahkan. Mungkin lebih dibutuhkan menyelam di kedalaman hati, mendewasakan spiritual dan emosional serta harus lebih menyeringkan silaturahim pada nurani. Lalu, di kelam lebam malam, masih menuju desa itu, kuamati dari remangremang kaca spionmu, kuterka kau pasti sedang mengigil. Tubuh mungilmu dipaksa menahan sapaan dingin angin. Kau, tak mengenakan jaket, pun tak mengenakan jas hujan. Hanya baju dan kerudung biru mudamu sebagai hijab, yang telah basah kuyup itu, yang terluntalunta menghadapi terpaan angin dingin namun masih tetap meronta menghadirkan kehangatan, di dirimu. Dalam keadaan yang sama, kau mungkin tak tahu, aku lebih sendu saat menangkap keadaanmu seperti itu, ketimbang terhadap diriku! Kau mungkin tak paham, aku lebih pedih saat melihat sorot yang terpancar di indah kedua bola matamu, ketimbang terhadap diriku! Lalu, dengan perlahanlahan sedih mulai menjulur menjalariku di sekujur. 

Dan, aku ingat. Hujan masih berderaian. Dengan mantap kau terus menancap gas, kau kian melesat cepat. Lalu, lampu merah motormu lebih menyala, kemudian diikuti lampu kuning di kanannya yang berkedip-kedip, mengisyaratkan padaku kau hendak berbelok kanan. Tak lama, hal serupa berulang, namun kini berkedipkedip ke kiri. Hingga sampailah di suatu rumah sepuh, kau berhenti sekejap. Kau menoleh kekanan, kepadaku. Kuamati kau meredup. Tersirat kau ingin menghadirkan senyum namun tak cukup sanggup menahan keadaanmu. Kuucapkan terima kasih, lalu kau berlalu menuju desamu. Sejenak kuberhenti di jalanan desa masa lalu itu. Di selasela rinai hujan yang masih marak, kupandangi nyala merah lampu motormu itu, perlahan menjadi kerlip. Hingga semakin kecil kerlipnya, semakin kabur, lalu menghilang dikelam malam. Setelah sepekan sejak kehujanan di senja itu, 

Kini, aku kembali ke kotaku. Entah mengapa aku ingin kembali duduk berteduh di samping bangunan itu. Ingin kuhirup mendalam sepuaspuasnya udara disekitar bangunan itu. Kuharap yang kuhirup adalah udara yang dulu pernah membelai halus paruparumu, yang kemudian ikut mengadirkan degup demi kau tetap hidup, dan tersenyum. Udara yang sangat indah, entah dengan bahasa apa ia bisa teribaratkan. Rasanya tak ada bahasa yang cukup baligh untuk menggambarkannya. Beberapa sore yang silam, dalam rangka ngopi dan silaturahim, handphone Nokia E51 yang terbaring tenang di sampingku ini menangis seperti bayi, kuketahui kabar keadaanmu melaluinya bahwa, kau sedang sakit. Alangkah betapa malam itu aku terkejut bercampur sedih dan rasa bersalah. Meski itu belum tentu karena kejadian dan kehujanan di senja itu, aku tak kuasa untuk tak ikut sedih. Sungguh dengan seluruh penuh ini, aku minta maaf. Semoga kau lekas sembuh. Amiin.


Kediri 24 April 2013, dalam siang yang sepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar