Hampir tiap kusebut namamu ratusan kali, kuharap dengannya dipantaskan ini menjadi cinta. Hingga disuatu entah, saat terdengar namamu di telinga ini, namamu itu lebih mampu menjadi obat pemusnah seluruh resah.
Gus, semoga lekas sembuh. Lalu kita, duduk berbincang, sambil ngopi. Seperti di warung, saat hujan-hujan itu. Saat rinai kian tak berjarak. Disitu, rindu kami kian marak, Gus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar