Aku ingat, saat itu hari raya, dalam keadaan sakit kau paksakan diri menemui dan menjamu kami, meski dengan berpegangan tembok untuk menuju ruang tamu. Kau pakai kaos barcelona, klub kesukaanmu dan sarung hijau. Dalam sebegitu keadaanmu, wajahmu masih senantiasa cerah, senyuman manis cair mengalir. Dan sesekali tawamu terdengar. Indah!
Kemarin, betapa aku terperanjat ketika mengetahui kabarmu yang sudah lebih kurang enam bulan sakit, dan mendadak malam itu di opname, di Purwoasri. Aduh Gusti! Sedih sekali rasanya. Kumenuju ruanganmu, begitu kulihat, kau tersenyum manis. Manis sekali. Sambil berkata, 'eh, mas bandeng...' kulihat tanganmu gemetaran, langsung kuraih, kujabat tanganmu. Kau tahu, tubuhku yang kurus kering ini, bahkan hingga kau kalahkan. Kau makin kurus. Wajahmu putih pucat. Memandangimu, di mataku ini mendadak menggeliat air yang cukup hangat. Dadaku sesak. Suasana menjadi biru, sunyi. Malam berubah kelam. Nelangsa sekali rasanya. Sungguh, kau damai, bahagia menikmati sakit yang bertamu di dirimu. Namun, kami tak sedamai kau. Maka, segeralah sembuh, Gus.
Aku rindu tawamu
Aku rindu candamu
Aku rindu nasehatmu
Aku rindu senandungmu
Aku rindu ngopi denganmu
Aku rindu melek'an denganmu
Aku rindu bakarbakar denganmu
Aku rindu....
Semoga lekas sembuh, Gus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar