Di gubuk bambu ini
sinar matahari terlalu
bocah. Untuk menjamah
rumahrumah jiwa
yang gelap sunyi senyap
setelah berjuang menghalau galau
ditikam dingin, didekap embun
saling melempar tatap
sesekali senyum tergelincir disekitar
wajah kusut yang belum dijamah air
Seusai mentari menari diselasela
gubuk bambu, maka perlahan
hangat mulai menggeliat
Pagi ini, kopiku tak sanggup bernyanyi
Maka, apa yang lebih mawar
selain senyum kalian yang telah mekar berpendar, saudaraku?
Pare, 22 Agustus 2013. Pagi yang dingin
:Pagi itu, sesaat sebelum berpisah :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar