suatu ketika yang lalu di campground lama..
Begini kisahnya; suatu ketika yang lalu di campground lama, aku masuk kelas satu dan berkenalan dengan mu, camp. Untuk beberapa saat, aku terdiam menikmati suasana dan nuansa sederhana nan bersahaja. Kuhirup udara disekitarmu terasa segar serasa membelai lembut paru-paruku ini. Dan yang itu, yang membuat mata sejuk, rimbunan hijau daun pepohonan. Selain itu, dua angkringan yang ada disisi kiri dan kananmu itu memberikan kesan tersediri ketika pertama dulu aku melihatmu, ketika awal aku ada kegiatan kemah di lapangan. Jujur, awalnya aku kira engkau ini sebuah CAFE. Oh...ternyata bukan, mereka memanggilmu dengan nama "camp". sebenarnya, dalam benakku sudah dihujani pertanyaan atas perbuatan mereka yang menamaimu "camp". sebenarnya engkau ini apa ?
markas kah?
hunian kah?
persinggahan kah?
Namun sampai saat ini yang kutahu masih hanya sebagai tempat ngopi, ngobrol dan guyon. Entah apalagi nanti. Aku belum menemukan definisi yang pas. Engkau itu apa? Entah.
Awal-awal aku duduk di berandamu dan meraba kerut-kerut pada dinding bambumu. Engkau menjelaskan padaku bahwa engkau cukup lama mempertahankan kegagahanmu dan keanggunanmu. Juga anyaman bambu yang nampak antik bergaya klasik. Satu lagi, sungai yang mengalir disamping kananmu itu. Juga orang-orang yang dulu sungguh singgah dan hadir dalam kisah perjalananmu. Tentunya mereka punya kisah yang terukir melibatkan dirimu sebagai aktor utamanya.Aku yakin, mereka juga punya suatu kerinduan untuk kembali merasakan suasanamu yang mungkin hingga kini membuat mereka masih sering menyambangimu.
Banyak yang berkata bahwa carilah ilmu sebanyak-banyaknya disini (campground). Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya. Namun apa yang terjadi ketika aku bertanya pada salah satu dari mereka yang berkata hal tersebut? Ya kamu cari sendiri, belajar. Dan juga slogan yang sering di obralkan, kalau sudah terlanjur basah sekalian menceburlah. Jangan ragu-ragu. Timbul banyak pertanyaan yang membuat aku sering merenung dan berdiam. Tak jarang ketika aku pulang dari sekolah formal, aku duduk di tepian jalanan menuju kearah perpustakaan dan menghadap wajahmu, camp. Kurenungi tentang bagaimana caramu mengajari orang-orang yang singgah dan mencari mutiara-mutiara ilmu darimu. Namun apa hasilnya saat itu? Nihil. Terang saja, aku masih sekecil itu. anak bau kencur kemarin sore yang seusianya masih bermain, sementara aku pusing menghadapi banyaknya pertanyaan dari dalam hati. Yang pastinya akan terus aku cari jawabannya.
Bersambung... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar